Selasa, 10 Februari 2026

PR Berat Alutsista Warisan Assad


Kementerian Pertahanan Suriah masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam upaya memperbaiki dan menata ulang sistem alutsista peninggalan era rezim Bashar al-Assad. Bertahun-tahun konflik dan pengelolaan yang buruk meninggalkan jejak berupa peralatan militer usang yang kini menumpuk di berbagai fasilitas militer.

Di banyak gudang militer yang tersebar di seluruh Suriah, masih terlihat deretan tank lama, sistem pertahanan udara, hingga truk pengangkut yang sudah lama tidak berfungsi. Alutsista tersebut sebagian besar berasal dari dekade 1970-an hingga 1980-an dan kini berada dalam kondisi tidak layak operasional.

Unit mekanik dan pemeliharaan di bawah Kementerian Pertahanan disebut memikul beban berat untuk memilah mana peralatan yang masih bisa diperbaiki dan mana yang seharusnya dipensiunkan. Proses ini tidak sederhana karena menyangkut anggaran, sumber daya manusia, dan ketersediaan suku cadang.

Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan tumpukan kendaraan militer bekas yang sudah menjadi rongsokan. Dalam rekaman tersebut, seorang pria menjelaskan bahwa kendaraan-kendaraan itu dulunya merupakan bagian dari armada militer resmi Suriah.

Ia menyebut sebagian besar kendaraan tersebut berasal dari era lama, sebagian ditinggalkan begitu saja di jalanan saat Assad lengser. 

Di Afghanistan, setahun berkuasa pemerintahan baru langsung bisa mengaktifkan sebagian besar alutsista yang ditinggalkan oleh pemerintah sebelumnya.

Masalah utama, sebagaimana disoroti dalam video tersebut, adalah biaya perawatan. Meski sudah tidak berfungsi optimal, anggaran besar disebut masih dialokasikan setiap bulan untuk bahan bakar, perawatan rutin, dan bahkan amunisi.

Pembiayaan ini dinilai sebagai bentuk pemborosan yang terjadi selama bertahun-tahun. Dana negara terus tersedot untuk menjaga aset militer yang secara praktis hanya menjadi tumpukan besi tua di gudang.

Pria dalam video itu juga melontarkan tudingan adanya praktik korupsi. Ia menyebut kekayaan negara telah “dirampok” demi menopang sistem militer yang rapuh dan tidak efisien, tanpa memberikan manfaat nyata bagi pertahanan negara.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi otoritas pertahanan Suriah saat ini. Selain keterbatasan dana akibat sanksi dan krisis ekonomi, mereka juga harus menghadapi warisan struktural dari sistem militer lama.

Di sisi lain, video tersebut menampilkan perbandingan yang menarik. Sang narator menyebut kelompok-kelompok bersenjata di Idlib yang justru mampu memproduksi kendaraan secara lokal dengan dedikasi dan kualitas yang dinilai lebih baik.

Produksi lokal itu, menurutnya, dilakukan dengan efisiensi dan orientasi pada kebutuhan lapangan, bukan sekadar menjaga simbol kekuatan militer. Perbandingan ini menyoroti jurang besar antara pendekatan lama dan realitas baru di medan konflik Suriah.

Kementerian Pertahanan Suriah kini dituntut untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap inventaris alutsistanya. Tidak hanya soal perbaikan teknis, tetapi juga pembenahan sistem manajemen dan pengadaan.

Para analis menilai bahwa modernisasi alutsista tanpa reformasi kelembagaan hanya akan mengulang kesalahan masa lalu. Fokus pada pemeliharaan peralatan tua dinilai menghambat pembangunan kekuatan pertahanan yang lebih adaptif.

Selain itu, keberadaan ratusan kendaraan rusak di gudang-gudang militer juga menimbulkan persoalan logistik. Ruang penyimpanan terpakai, sementara biaya keamanan dan pemeliharaan tetap berjalan.

Upaya untuk mendaur ulang atau membongkar peralatan lama pun tidak mudah. Keterbatasan teknologi dan kurangnya investasi membuat proses ini berjalan lambat.

Dalam konteks pascakonflik, pembenahan sektor pertahanan menjadi salah satu indikator penting stabilisasi negara. Alutsista yang tidak terurus justru mencerminkan rapuhnya fondasi institusional.

Video tersebut ditutup dengan pernyataan emosional bahwa runtuhnya rezim lama dianggap sebagai kehendak Tuhan. Pernyataan ini mencerminkan sentimen sebagian masyarakat terhadap masa lalu militer Suriah.

Bagi pemerintah Suriah saat ini, warisan alutsista era Assad bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga simbol kegagalan tata kelola sebelumnya. Membersihkannya membutuhkan waktu, sumber daya, dan kemauan politik.

Selama unit mekanik dan pemeliharaan masih disibukkan dengan kendaraan usang, reformasi pertahanan akan berjalan tertatih. Tantangan ini menjadi pengingat bahwa sisa-sisa perang tidak hanya berada di medan tempur, tetapi juga di gudang-gudang yang penuh besi tua.

Ke depan, keberhasilan Suriah membenahi sistem pertahanannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana negara ini menyelesaikan beban alutsista lama yang selama ini terabaikan.

Di Amerika Serikat, pengelolaan alutsista usang tidak dilakukan secara acak atau dibiarkan menjadi rongsokan tak bernilai. Militer AS justru memiliki satuan dan sistem khusus yang secara resmi bertugas menyimpan, merawat, dan memanfaatkan alutsista lama sebagai sumber suku cadang strategis.

Untuk matra darat, Angkatan Darat AS memiliki unit logistik dan pemeliharaan di bawah Army Materiel Command. Di sinilah tank, kendaraan lapis baja, artileri, hingga truk militer yang sudah tidak aktif lagi diklasifikasikan, dicatat, lalu disimpan secara terkontrol. Banyak dari kendaraan ini tidak dimaksudkan untuk kembali ke medan tempur, tetapi menjadi “donor organ” bagi unit lain yang masih beroperasi.

Salah satu lokasi paling terkenal adalah Sierra Army Depot di California. Fasilitas ini sering disebut sebagai “kuburan tank”, namun sebutan itu agak menyesatkan. Di tempat ini, ribuan tank dan kendaraan tempur disimpan dengan prosedur standar agar komponen pentingnya tetap bisa dipakai bertahun-tahun kemudian.

Tank-tank seperti M1 Abrams versi lama, Bradley IFV, hingga kendaraan logistik disimpan dengan sistem preservasi khusus. Bahan bakar dikosongkan, cairan diganti, komponen sensitif dilindungi, dan mesin dijalankan secara berkala sesuai kebutuhan agar suku cadangnya tetap layak pakai.

Di matra udara, Angkatan Udara AS memiliki sistem serupa melalui Air Force Materiel Command. Pesawat tempur, pesawat angkut, dan pesawat pendukung yang pensiun tidak langsung dibongkar sembarangan, melainkan ditempatkan di fasilitas penyimpanan khusus di lingkungan kering.

Lokasi paling ikonik adalah Davis-Monthan Air Force Base di Arizona, rumah bagi Aerospace Maintenance and Regeneration Group. Di sinilah ratusan hingga ribuan pesawat, mulai dari F-16, A-10, B-52, hingga pesawat angkut C-130 versi lama, disimpan dengan status berbeda-beda.

Pesawat-pesawat tersebut dikategorikan apakah akan diaktifkan kembali, dijadikan sumber suku cadang, diuji coba, atau dibongkar total. Banyak suku cadang kritis seperti avionik, mesin, dan struktur tertentu diambil untuk menjaga armada aktif tetap terbang tanpa harus memproduksi komponen baru yang mahal.

Angkatan Laut AS juga menerapkan konsep serupa. Kapal perang dan pesawat laut yang dipensiunkan akan “disumbangkan” sebagai sumber suku cadang bagi kapal sejenis yang masih aktif, terutama jika kelas kapal tersebut sudah tidak diproduksi lagi.

Satuan-satuan ini memang bukan “batalion tempur” dalam arti konvensional, melainkan unit logistik khusus yang personelnya terdiri dari teknisi, insinyur, dan ahli pemeliharaan. Namun secara struktur militer, mereka tetap memiliki organisasi setingkat batalion atau resimen logistik.

Pendekatan ini membuat militer AS sangat efisien. Alih-alih membiarkan alutsista lama menjadi besi tua yang membebani anggaran, mereka diubah menjadi cadangan suku cadang jangka panjang yang siap dipakai kapan saja.

Selain efisiensi biaya, sistem ini juga penting dalam situasi perang berkepanjangan atau krisis global. Jika rantai pasok terganggu, suku cadang dari alutsista lama bisa menjadi penopang keberlangsungan operasi militer.

Model Amerika ini sering dijadikan rujukan negara lain. Perbedaannya terletak pada manajemen, pencatatan inventaris, dan disiplin pemeliharaan. Alutsista lama tidak diperlakukan sebagai simbol kekuatan masa lalu, tetapi sebagai aset logistik yang masih bernilai.

Dalam konteks negara-negara yang keluar dari konflik panjang, seperti Suriah, sistem semacam ini menunjukkan bahwa tumpukan tank dan kendaraan lama sebenarnya bisa menjadi kekuatan tersembunyi, asalkan dikelola dengan pendekatan logistik modern dan bebas dari korupsi.

Tidak ada komentar: